Story

Jodoh

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah)
(QS Az Dzariyat : 49).

Al..
Pagi tadi langit terlihat cerah, namun tiba- tiba hujan mengguyur bumi dan sekarang kembali cerah lagi. Membingungkan bukan? Ku pikir ada ilmu yang belum ku pelajari tentang cerita si cerah dan si hujan. Nun jauh di sebuah madrasah di pinggir desa sana, aku yakin tengah ada seorang guru yang berkisah tentang tentang matahari dan hujan. Aku bukan orang yang beruntung hari ini Al, karena tak dapat mendengar kisah tersebut.

Tidak Al, aku tidak akan bercerita tentang matahari dan hujan hari ini. Ada hal yang jauh kaitannya dengan itu semua. Pernikahan Al, yaa.. Aku akan berkeluh kesah tentang pernikahan.

Kau tahu, usia ku sekarang 20 tahun lebih sebulan, dan teman-teman ku ada yang sudah berpijak pada usia 21 tahun atau bahkan lebih. Pernikahan bukan hal yang tabu lagi untuk dibahas. Normal saja, manusia mana yang tidak ingin membangun bahtera rumah tangga? Ku pikir tidak ada. Aku pun sama seperti mereka, di suatu waktu aku akan mengobrol ria dengan teman perkara jodoh di masa depan. Rasa penasaran itu ada Al, sungguh aku pun ikut penasaran siapa yang akan mendampingi hari tua ku kelak.
Hahahaha.. Aku ingin tertawa Al. Aku merasa sudah sangat tua jika membahas hal ini. Seakan-akan aku sudah mampu lahir dan batin untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Padahal kenyataannya, tentu saja aku tidak siap.

Namun Al, terlepas dari itu semua ada hal yang mengganjal di pikiran ku. Aku jadi merasa tidak ingin menikah, atau sekurang-kurang nya aku tidak mau menikah di usia muda. Inilah alasan ku menulis hari ini Al, meski kau tak memberi solusi, setidaknya aku bisa menjadi sedikit lebih lega karena sudah mengungkapkannya.

Baiklah, aku lanjutkan…

Aku harus berlari Al, mengejar cita-cita yang sangat jauh. Aku takut tak mampu berlari jika di samping ku ada yang mengiringi. Masih bersyukur jika ia mau mengiri, namun bagaimana jika ia malah mendorong ku mundur? Akan sia-sia rencana hidup yang telah ku bangun bertahun-tahun lalu. Bukankah aku benar Al?

Aku takut Al, tak mendapat pasangan yang sejalan dengan ku, yang mendukung semua rencana hidup ku. Aku takut ia malah menjadi racun. Al, aku ingin seseorang yang visi misinya sama dengan ku, sehingga ia benar-benar akan berlari beriringan dengan ku kelak, menjadi pendorong ku untuk berlari, atau menjadi penyambut saat aku sampai di garis finish.

Bukannya aku menjadi orang yang pemilih, kau tahu aku tidak akan hidup dengan nya barang sehari atau dua hari. Seluruh hidup ku adalah hidup nya. Bagaimana aku bisa bernapas jika harus bertolak belakang dengan nya? Aku akan mati Al, sebab bukan kehidupan yang ia berikan melainkan racun yang akan membunuh ku.

Al, teman-teman ku berkata menikah ideal itu adalah di usia 25 tahun, namun bagaimana Al? Aku ragu jika harus menikah secepat itu. Atau, bagaimana jika aku belum menikah nanti? Akankah cibiran dari masyarakat yang aku dapat? Akan kah aku disebut sebagai perawan tua?
Teman-teman ku juga berkata bahwa pendidikan perempuan tidak boleh lebih tinggi dari laki-laki, “nanti gak ada yang mau”. Gitu Al….

Jauh di dasar hati ku, aku takut akan hal itu. Karena bagaimana pun menikah adalah salah satu cita- cita setiap orang. Namun Al, jika begini aku jadi bingung alasan dari sebuah pernikahan itu sendiri adalah apa? Apakah agar tidak disebut sebagai perawan tua? Untuk memuaskan opini masyarakat?

Melelahkan hidup di dalam masyarakat yang seperti ini. Aku percaya Al, jodoh dan maut telah diatur oleh Tuhan. Jika Allah mengatakan bahwa aku tidak akan menikah sekarang, maka aku bisa apa? Jika Allah mengatakan bahwa jodoh ku tidak ada di bumi, lantas aku bisa apa?
Namun, jika nanti aku bersedih ketika melihat teman-teman ku sudah berkeluarga, bukan kah itu manusiawi Al? Aku manusia yang diciptakan dengan serangkaian perasaan, sudah barang tentu aku akan bersedih hati.

وَزَكَرِيَّآ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِيْنَ ۚ

Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.” (Al Anbiya : 89)

Aku percaya manusia diciptakan berpasang-pasangan. Pasangan ku sudah ada, meski aku tidak tahu dia dimana. Kenapa aku harus khawatir? Kenapa masyarakat harus khawatir?
Ayolah.. Hidup terlalu menoton jika hanya berpikir tentang pernikahan. Ayo Al, pergi bersama ku, meraih cita-cita kita. Pendamping hidup akan datang tepat pada waktunya, khawatir adalah hal yang sia-sia.

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah) (QS Az Dzariyat : 49).

Uncategorized

Dosa

O,Allah.. Masihkah tersisa satu hati untuk ku? Aku membutuhkan hati yang baru, karena pada hakikatnya hamba Mu ini tidak sedang memiliki hati..

Selamat malam, Al
Akhir-akhir ini aku sedang senang menulis. Aku ingin terus menulis Al, sampai nanti jari ku tak lagi berfungsi, otak ku tak mampu diminta berpikir. Aku ingin tetap menulis. Kau tahu Al, aku ini perempuan malang yang setiap hari selalu sendirian, pada siapa lagi harus ku curahkan hati selain kepada Pencipta ku sendiri, namun terkadang itu pun tak cukup bagi ku. Aku selalu ingin bercerita pada orang lain, kenapa Al? Apa aku hamba yang durhaka? Aku tidak ingin seperti itu. Allah, ku mohon ampuni aku.

Malam ini, kembali aku menulis. Sekedar menuangkan ide yang bersarang di pikiran, disertai juga perasaan yang tidak pernah tenang.
Teringat aku pada seorang teman, ia adalah teman ku sejak di madrasah dulu. Ia pun menulis juga, ia sangat mahir bermain kata, lebih mahir dari ku yang sudah mulai menulis sejak tujuh tahun lalu. Padahal, baru-baru ini saja ia pandai bersajak.

Aku iri Al, kenapa ia sangat pandai? Kenapa aku tidak? Kenapa ceritanya banyak disukai orang? Sedang aku, harus ku mengemis dahulu baru orang suka. Seburuk itu kah yang aku tulis? Cerita macam apa yang dia buat hingga mampu menarik banyak peminat? Ku pikir, sama saja dengan punya ku. Namun seperti nya, itu berbeda di mata orang.

Aku iri Al, aku ingin seperti mereka. Aku ingin terbang meski aku tak bersayap. Bagaimana? Beri tahu aku caranya.
Al, hati ku ini adalah hati manusia yang gelap warnanya. Penuh iri serta benci, busuk Al. Tak pantas menyandang gelar baik. karena itu, aku bersyukur pada Pemilik Hati, rela menutupi aib ku yang memenuhi bumi ini. Seperti kata mu Al, cinta-Nya tak terhingga untuk ku. Lantas, mengapa masih tak kurasakan getaran di dada saat tersebut nama-Nya? Tidak juga saat membaca surat cinta-Nya.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal,” (QS Al Anfal 2).

Al, Apakah aku tidak termasuk orang yang beriman?

Mati Al, hati ku sudah mati. Masih kah ada iman di sana? Aku tidak tahu. Masih kah ada cinta di sana? Pun aku tidak tahu. Menyedihkan hidup seperti ini. Merana dalam kehampaan.

Umpama mawar yang indah namun kering tak tersiram air. Itulah aku, manusia yang dipandang baik, namun kering hati nya karena tak tersiram indahnya cinta. Bagaimana lagi Al? Siapa yang mampu menuntun ku selain diri ku sendiri. Namun aku pun bingung harus kemana dan bagaimana. Dosa ku terlampau banyak Al, hingga ku pikir Tuhan ku tak lagi beri aku cinta di dalam hati. Aku takut Ia murka. tapi aku selalu mencari-cari kemurkaannya. Manusia macam apa aku ini Al?

اطلب قلبك في ثلاثة مواطن عند سماع القرآن وفي مجالس الذكر وفي أوقات الخلوة فان لم تجده في هذه المواطن فسل الله أن يمن عليك بقلب فانه لا قلب لك

“Carilah hatimu di tiga tempat ini ; di saat engkau mendengarkan Al Qur’an, di saat engkau berada di majlis dzikir (majlis ilmu) dan di saat engkau menyendiri bermunajat kepada Allah. Jika engkau tidak temukan hatimu di sana, maka mintalah kepada Allah agar Memberimu hati karena sesungguhnya engkau sudah tak punya hati lagi,” (Al Fawaid 1/148).

Itu kata IMAM Ibnul Qayyim Al Jauziyyah.

Al, Apakah aku tak lagi mempunyai hati?

Uncategorized

Pergi

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, Mengikhlaskan semua” Tere Liye

Memaafkan itu melelahkan. Sudah berulang kali aku mencoba untuk memaafkan kesalahan orang lain, berulang kali pula kesalahan itu bergentayangan di pikiran. Kenapa Al? Tidak adakah lagi cinta di hati ku? Hingga yang aku ingat adalah kebencian, selalu.
Aku tidak suka Al, aku ingin hati ku damai, aku ingin ikhlas menerima segala hal yang sudah berlalu. Tapi bagaimana? Ajarkan aku untuk ikhlas.
Ingatan ku tak pernah pudar jika menyangkut tentang luka, ia abadi. Hati ku kini dipenuhi penyakit, membusukkah dia? Katakan Al, manusia mana yang ingin keadaan seperti ini, ku rasa tidak ada. Aku ingin pulih, tolong Al beri aku obat penawar.

Ingin rasanya aku mengungkapkan setiap kesalahan mereka, tetapi aku lemah, aku tidak mampu, aku takut mereka marah. Lucu nya, aku selalu takut menyakiti orang lain tetapi terlalu sering aku terima tikaman dari orang lain. Siapa yang bodoh? Aku? Tentu.

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, Mengikhlaskan semua” Kutipan dari Tere Liye.

Tetapi aku bukan daun Al, aku manusia yang memiliki perasaan. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi orang yang tak peduli sedang hati terus menerus ditikam dengan belati. Aku benci, benar-benar marah rasanya. Sebab itulah aku ingin pergi, jauh dari negeri yang kaya akan adat dan budaya ini. Biar saja Al, aku ingin hidup sendiri agar mudah menghapus luka yang masih tersisa, aku tak ingin membenci Al.

Ku pikir, pergi adalah keputusan yang tepat. Agar aku tidak marah lagi. Agar yang tersisa hanyalah rindu. aku ingin, merasakan rindu, rindu yang teramat dalam akan rumah, kampung halaman. Pun bahkan aku ingin merindui orang-orang yang padanya aku marah. Selama ini aku dikelilingi oleh orang-orang terdekat, tak ada rasa kehilangan, tak ada rasa ingin pulang karena mereka selalu dekat. Aku ingin seperti orang lain, memiliki rindu yang tak terbendung. Rindu itu arti nya apa Al? Apa seperti aku yang teramat ingin bertemu orang yang entah seperti apa rupanya, dan entah dimana keberadaan nya? Atau ada definisi lain? Ceritakan Al, cerita kan pada ku tentang rindu.

Story

Suara untuk Al Nair

Awal mula suara untuk Al Nair

Al, nama mu akan ku pakai. ‘Tuk menjadi pengisi sunyi di puing2 kata yg akan aku bangun. Kau keberatan? Ku harap tidak. Maaf jika aku tidak meminta izin, anggap saja kau sudah mengizinkannya.
Al, setelah ini akan banyak cerita-cerita tentang mu, tentang aku, tentang alam, tentang perasaan. Akan aku bangun sebuah rumah yang berpondasikan kata, untuk mu Al, hanya untuk mu.
Bersabar lah, semua akan kita mulai pelan-pelan. Tidak, semua akan aku mulai pelan-pelan. Kau tidak di sini Al, entah dimana pun engkau, hanya Tuhan yang tahu. Meski di setiap dentingan jam aku berharap sebuah kejutan akan kedatangan. Tapi tidak lagi Al. Setiap harapan selalu semu, jadi aku berhenti berharap. Aku tidak salah kan Al? Kau sendiri yang meminta aku berhenti. Kini aku berhenti.
……


Di setiap cerita yang aku bangun, ku harap akan selalu ada engkau nantinya. Karena cerita-cerita ini untuk mu Al, untuk mu yang tak mampu mendengar aku bercerita. Aku pun lelah memendam nya sendirian, aku sudah semakin tua Al, ingatan ku akan segera memudar. Maka, tulisan ini yang akan menjadi pengingat kelak ketika aku tak lagi mampu mengenang kejadian masa lalu, atau bahkan tak lagi mampu aku untuk mengingat nama mu.